|
 | Sedikit Intermezo;+ | Nov 24, 2007 |
Nuansanya gementing. sejenak cerah, sejenak mendung. hanya meraung memohon efektiftas pada detik, memelas memerah kerja otak. tubuhnya android, otaknya onderdil, dunia tak pernah adil. kami berdesakan dalam tuntutan, bersikutan kreatifitas. memforsir,diforsir. tak ada jam show untuk para stimulan, tak ada nafas untuk unprogressif-think. aku di tikam awan, merajang di tengah alang-alang. tertimpa gedung tua yang bertuliskan " Prostisusi Akamdemistis". hatamkan sejarahnya, susun letaknya, padamkan gejolaknya, menunggu tangisnya. organisator dan semak belukar. mereka tertawa, kami menghina. mereka tertarik kami menangis. ini bukan musim makan. sejenak pancaroba dan banyak cinta. yah,akhirnya aku tiba di Musim Aleksia Dunia Berkeringat: tak mampu membaca. sedikit merasa. menenteng koper keluar arah. mendedikasikan pada semua. huffff. I'm here for me. I'm here for you. I'm here for something. So,Where I am? Saat ini ada sisa-sisa dari letupan energi yang bersumber dalam ilegelatisanya. Udara yang menghangat, nafas yang stabil dalam ketenangan suara-suara penyembahan terhadap pencipta. Apel merah ranum itu menari di atas meja kayu berwarna kuning, Di sistem otonomi otaknya yang semakin melemah. Apel merah ranum tergigit, sejenak manis lalu energi kembali terpecah dalam butiran-butiran sinar berwarna biru muda, ada fragmen dan juga kenaikan suhu di sekitaran. Tidak pernah tau dengan dengung-dengung ini, bunyinya naik dan turun, dari nada minor sampai mayor, do pertama sampai do terakhir. Senja di pelataran terasnya semakin manis, Tersenyum sambil merentangkan sayapnya, lalu ototnya menegang. Melompat lalu senyap. Butiran-butiran air satu persatu terpecah, hujan bersuara dalam kesombongan awan-awan yang menguasai langit. Tanpa ironi aliran itu menuju pada titik terendah dari statistik, lalu senyap, menghilang hambar bersama sisa-sisa remah roti dan segelas kopi hitam di suatu sore.  | Kuvatur | Sep 26, '10 3:36 PM for everyone |
00:00:00, aerosol melayang karena penolakan, membawa molekull yang kehilangan elektron. Menembus paru-paru yang sudah lengket dengan Caffein dan Nikotin. Tengah malam lagi-lagi saya mulai merasa mendapat tempat untuk melukis di sebidang signal elektrik, menarikan jari-jari yang tidak senada dengan Red Letter dari The American Dollar. Diputar lagi, Winamp melantun dengan kurva nada yang fluktuatif. Sekilas melirik pada Windows yang memberi pandangan sangat jauh, dari ujung ke ujung satunya dunia. Ada Si ikal, seorang teman lama, sudah berada di porosnya. Negeri mana entahlah, tapi dia sudah terabadikan lewat cahaya yang di tangkap dengan kecepatan tinggi. Seorang lagi, juga teman lama saya dengan pipi yang tergambar urat merah karena putih kulitnya, juga tampak cemerlang disana, entah juga dimana tepatnya. Tapi pastinya di tingkatan yang lebih baik dari saya hari ini. Bicara tentang pencapaian. Hari-hari ini mulai membawa lagu lama. Pesimis. Mungkin karena sudah lamanya Netrazepham tidak membuat jantung saya berpacu lebih kuat. Dan THC juga lama tidak meracuni serta memutus sel otak saya yang masih terlampau banyak untuk tidak di putuskan. Entahlah, lagi-lagi terlalu sentimentil saya pada diri sendiri. Semuanya serba memungkinkan di antara ketidakmungkinan. Ah, ingin sekali lupa sejenak. Ervan Raditia, Bandung 27 September 2010 “…” Senyap tembakau nya terbakar, malam ini aku teracuni tanaman agawe. Perutku panas, sendawanya masih memberikan semilir hangat kental minuman keras. Oh indahnya pepohoan yang semakin rimbum memberi makan pada 4 tupai yang hidup di tengan perkotaan. Di Kota bunga yang mulai membusuk dan permukaanya sudah ledok dengan aspal haram murahan. Melihat denga mata yang susah mencari titik fokus seperti kamera analog murahan.
Masih kental rasa garam di mulutku, setidaknya lebih baik dari pahit air distilasi yang hanya terisa botolnya sekarang, kapan-kapan kubawa pulang. Pohonnya semakin rimbun, semoga tupainya semakin banyak. Awas saja jika mereka tergusur, akan kusiapkan botol kecap karena diam sudah tak cukup memberi isyarat, dasar bangsat.
Ervan Raditia Bandung, Suatu Malam Yang Cerah 2010
Kami adalah CvHwOtNySzSi, koalisi bersama yang bermarkas dalam benteng silinder kertas. Bangsa Indian adalah yang berhasil menyatukan kami dalam kesatuan koalisi mematikan, perpaduan yang kuat. Kami di hadirkan dan lalu di undang untuk ritual memuja Dewa dan Ruh bagi Bangsanya. Kami begitu khusus bagi mereka. Pada Abad ke-16, para kolonialis dari Eropa tiba di tanah bangsa Indian, America. Mereka mulai mengenal kami lewat interaksi dengan para Indian. Kami mulai sering bercengkrama di pesta-pesta penyambutan, juga di saat senggang. Mereka bangsa Eropa, sering memanggil kami untuk menemani, berbincang bersama asap yang mengepul. Berusaha mengusir dingin di America sambil merenungkan tanah kelahirannya. Hari demi hari berlalu dan lalu tahun berganti tahun, kami sudah semakin akrab dengan bangsa Eropa. Bahkan melebih keakraban kami dengan Indian, bangsa pertama yang ternyata mengekploitasi kami sebagai alat. Tapi Mereka tidak pernah menyadari betapa berbahayanya kami, kami sebuah kesatuan yang hidup untuk membinasakan manusia. Betapa bodohnya mereka. Para bangsawan Eropa mulai jatuh hati pada keberadaan kami yang sangat membantu di waktu senggang. Mereka mulai sadar kami adalah sebuah komoditi yang patut di kenalkan pada bangsanya di tanah Eropa. Dan pada abad ke-17 para pedagang dari spanyol mulai membawa kami ke tanah Eropa. Dimana kami mulai di kenal, dan mulai membawa petaka tanpa mereka sadari.
Kami semakin di kenal, bangsa Spanyol kemudian mengenalkan kami pada bangsa di timur tengah, di tanah Arab yang kaya dan begitu megah dengan kerajaan Islam. Lalu masing-masing dari bangsa besar yang telah kami ceritakan mulai mengenalkan kami ke seluruh dunia, tanpa kecuali. Kami tiba dia Asia, Afrika dan bahkan semakin digemari di tanah kelahiran kami America.
Setelah mereka semua mengenal kami CvHwOtNySzSi . Satu persatu dari mereka secara personal mulai tunduk pada kami secara tidak sadar, kami tampil sebagai penyelamat kesepian yang pada akhirnya akan membawa mereka ke liang lahat. Manusia serakah yang mulai mengenal sistem Ekonomi sebagai basis penyerangan kolonialisme nya pada bangsa lain, semakin gencar mengirimkan kami pada bangsa-bangsa bodoh yang tidak juga menyadari betapa berbahayanya kami. Kami di beri pakaian perang yang beragam agar tak kalah di medan jual beli. Sudah disangka kami semakin besar, kelahiran masal mulai tumbuh di setiap sudut dunia. Banyak tipu daya yang di lakukan manusia itu sendiri untuk mengirimkan delegasi kami ke tiap Negara, menyelusup untuk membunuh satu-persatu dari warganya.
Beberapa atau mungkin banyak orang mulai sadar tentang berbahayanya kami bagi mereka. Namun sebuah sistem berbasis Ekonomi terselubung, tetap memaksa kami esksis di seluruh dunia hingga saat ini. Berbagai undang-undang di sahkan di berbagai Negara untuk mengawasi keberadaan kami. Tapi tak ada yang mampu memberangus kami atas nama apapun. Kami tetap tak tersentuh untuk membunuh setiap orang tanpa gangguan hukum apapun.
Kami CvHwOtNySzSi, memberikan peringatan pada seluruh manusia, bahwa puluhan juta pasukan Silinder kertas kami telah berada setiap sudut bumi. Bahkan di tempat teraman sekalipun untuk terus membunuh kalian. Kami pasukan Silinder kertas akan terus ada, semasa manusia bernafas dan bernafsu. Dan kami mengumumkan, telah menguasai setiap penjuru dunia, tanpa pandang bulu. Tidak kami idahkan konsep strata ekonomi, umur atau berapa kuat dan besar bangsa yang ada di dunia ini dapat bertahan. Sudah kami taklukan semua sekarang, tanpa terkecuali.
Ervan Raditia, 14 September 2010
Sebongkah bulat dari Anorthosit dan Basalt dini hari ini tak nampak di langit. Tidak ada yang peduli, kami terfokus pada kotak menyala dalam berbagai ukuran yang di hitung benar berdasarkan ilmu Ekonomi Global. Dengan sesekali menambah kandungan Nikotin dan Caffein di tubuh, malam ini tetap benderang dengan segudang kata yang di unduh dari sekian titik perdaban dunia. Malam segera berpulang sebelum senja memanggilnya kembali. Harapnya, di waktu terang nanti mendominasi bumi, bulir air segan untuk turun. Membiarkan para Nocturnal menjelma sebagaimana mestinya di tengah hari. Lalu setiap manusia mampu melepaskan kemauan alam dan beranjak menjadi sangat egois. Jumlah Noctrunal meningkat, karena matahari tidak pernah beristirahat di barat maupun di timur. Nira kabel menjelma menjadi poros utama mereka bergerak, bergerombol mencari mangsanya masing. Unduh dan terus unduh saat yang lain lengah. Lahap terus daging Globalisasi yang tidak pernah akan habis, hanya berhati-hati karena sebagian di antaranya adalah mahluk beracun dengan warna yang benderang. Selamat tidur para Nocturnal, mahluk malam jejadian yang mencoba terus mencari arti dari masa mudanya yang singkat. Slowdive menemaniku tidur sebelum dewa Ra muncul dan memerintah semaunya. Aku tak akan pernah sudi di jajah. Ervan Raditia, Bandung 13 September 2010 Distorsi malam, begitu waktu ini berlalu. Sayup bersama nada yang konstan, terus terjaga dengan tenaga yang di ujung tanduk nasibnya. Explosions In The Sky menghanyut di sebaris cerita yang nanar, sepetak stimulan yang berkelumit berlari-lari menggantikan ekor demi ekor domba yang juga berlari sambil meloncati pagar. Saat ini 3.50 PM, fajar segera menyeret bola raksasa orange untuk bertengger mewarnai kanvas yang sedari tadi hitam. Sedari dulu memang hitam jika saatnya.
Kabarnya tuhan sering tersinggung hari-hari belakangan. Mahluk tercintanya beberapa kali di beri sanksi peringatan. Ah, alangkah indahnya jika tidak lagi ada stimulan di hari yang sedini ini. Termasuk tentang cerita tuhan yang sedang asik menghempas angin ke barat daya.
Oh, Bila bergumam tidak juga memberi suatu jalan keluar, akan juga keheningan tidak memberi kunci untuk sebuah gerbang menuju taman hijau dan balon warna-warninya? Sejenak, akhirnya saya memohon sejenak saja agar matahari tak lekas kunjung di rotasinya, membawa pagi yang tidak juga terlalu dinanti.
03.50 PM tik tok tik tok tik tok ... Nyala lampu jalan yang terbias rintik hujan membentuk suatu fragmen dalam pandanganku. Cahaya adalah semacam garis penuntun yang pasti malam ini, hujan terus berbicara dalam rintiknya yang perlahan, awan-awan kelabu angkuh kokoh di antara kebiruan langit yang semakint tua. Langit malam ini, jika aku terlalu banyak berbicara langit di malam ini, mungkin akan terlalu banyak kegundahan yang akan terangkai dalam sebuah prosa tidak nyata yang sedang perlahan tersusun kusut dalam intuisiku.
Merambat dalam derasnya air yang tak juga lepas terhadap gaya gravitasi pasti dari bumi yang semakin menua, keriput disana-sini. Aku membakar rokokku yang kesekian, asap mengepul dalam bias cahaya yang menampilkan siluet diriku dari kejauhan. Perlahan aku terus menyusuri jalanan yang temaram oleh cahaya lampu jalan, lenggang tanpa arus lalu-lintas. Lalu kesekian kalinya aku berjumpa dengannya lagi di perempatan jalan ini, dia melempar senyumnya padaku. Dengan rok mini dan kaos tanpa lengan berwarna merah, tangan kanannya memegang rokok yang menghadirkan asap pada siluetnya dalam orange bias lampu jalan. Malam ini penuh siluet cahaya lampu jalan, basah karena rintik halus jatuhan air yang berulang dari langit yang gelap, gundah gulana.
Memandangnya berdiri di sisi jalan menjadi suatu kebiasaan yang menyenangkan untukku. Setiap malam seperti biasanya akan ada dia yang berdiri menunggu di bawah lampu jalan di perempatan lenggang itu. Meski bukan menungguku, tapi kuarahkan pikiranku agar dia tetap disana untuk menungguku, untuk melepas senyumnya yang nakal pada mataku yang tidak pernah sanggup menatapnya lebih dari 3 detik. Di antara deretan toko tua aku melewatinya, dalam beberapa hitungan aku akan mencapai jarak terdekat dengannya, dan hasrat yang berulang kali muncul segera terlewati secepat air dari langit yang terjatuh dengan kecepatan tinggi, hujan rintik terus membawa cerita malam ini.
Dramatisasi keadaan, penokohan tunggal terbaik dalam setiap cerita adalah berempati pada diri sendiri. Malam yang biasa ini terlihat temaram lewat kalimat yang tersusun, di susun dan diarahkan untuk membuat settingnya terasa penting untuk diketahui. Converse hitamku menginjak genangan air, berdecak, membercak memberi warna lain pada hitamnya. Malam ini juga akan berlalu seperti sebelumnya, abadi dalam sebuah prosa singkat tentang fragmen hujan di waktu gelap.
Dan setiap disimilasi ini telah terjadi di dalam 203 hari. Begitulah semua mengalir dalam kesatuan warna yang tak pernah kontras, sebuah kontradiktif yang kontemplatif, atau mungkin yang tak diyakini, tak pernah merasa selektif. Semenjak ini dia adalah konstituen bagi saya, sejauh hari dari setiap prosa yang tidak juga pernah saya beri titik. Dan semuanya telah berjalan dalam kelelahan yang tidak juga kunjung terasa. 203 hari neologisme ini menjadi embrio yang tak stabil, naik dan turun dalam grafik keputusasaan, ruai dalam ikatan absrudritas. Dan sampai ketika matahari pertama muncul di hari ke 204 ini, semuanya menjadi prosa yang tak pernah saya tuntaskan. Dan tak akan saya tuntaskan sampai sebuah manifesto Tuhan yang indah menghapus setiap jejak dari pemertahanan perasaan. Cinta? Tidak terlalu murah untuk di ucapkan hari ini. hari ke 204. " I Love U:) "
Beberapa tulip berwarna pelangi berjajar di taman, bukan terdiri dari 1 warna yang dominan di salah satu bunga. Tapi membentuk gradasi warna pelangi yang bermetafora menyelaraskan keberagaman dalam setiap bunga. Bukan satu-persatu, tapi bersama dalam satu tangkai warna itu mewarnai setiap kelopak tulip yang besar. Sesungguhnya itu hanya metafora para tulip untuk menyiasati keberagaman. Karena metafora begitu lekat dengan hidup. Karena banyak warna tak selalu kontras di setiap mata. Kesetaraan itu hanya angan-angan. Bagaimanapun tak ada yang berjalan di tanah dengan hukum yang setara, karena tak ada satupun kebenaran yang tidak tergugat. Dan bagaimana kita dapat tetap hidup dalam kepalsuan yang sudah bermetafora menjadi suatu kebenaran yang sukar di gugat? Marginalisasi pengetahuan agar tetap bisa bermetafora. Agar semuanya tetap redup, dan kebenaran menjadi sesuatu yang tak perlu di perdebatkan. Karena aing haying ngacapruk we. Yee. Apeu!;(
Begini rupanya dalam sketsa ruang tahan udara, ambisi yang dikaitkan dengan sisi kosong dan keberadaan sebuah dimensi yang berbahagia. "Aku dapat lebih tertawa dengan hanya menjelajah, tanpa memiliki akan terasa lebih menggairahkan!" ucapnya dingin pada suatu malam yang ramai dengan plasma merah berpindah tubuh.
Ucapanku berkelok pada padang pasir yang eksotis, tapi sangat sulit di mengerti. Kadang lebih pink jika terlihat hitam di antara jajaran putih yang bermetafora. Aku, diriku kali ini tidak ingin terlalu eksplisit, menanam jarak di sebuah kedekatan adalah menyenangkan. Semakin pintarlah dia dan semakin malas kalian membacanya. Lalu apa arti intelejensi otak kiri? otak kanan ada pada proporsi yang fluktuatif!
Samakan suara, dan aku hanya ingin melepas tinja yang tersusun dan menghambat kinerja usus, entah 12 jari atau apapun namanya. Semerbak wangi keapatisan, secuil dorongan untuk muntah dan membiarkan semua menjauh. Dan sebentar lagi pasti akan terlihat eksotis, tapi sulit dimengerti. “ Santiago, adakah yang akan kita lakukan hari ini? ” ucap bocah itu gamang, wajahnya tampak menghantarkan bosan. “ Bagaimana jika bermain kasti? Memancing ikan Marlin? “ Santiago berujar tanpa mengalihkan pandangannya, mulutnya menghebuskan asap rokok. Asap putih itu bergumul bersama angin laut, Santiago masih menatap gamang pada awan-awan di atas lautan biru, biru yang memantul dari langit yang menghampar menjadi kanvas coretan awan-awan bulan Juni. Awan-awan cerah dan berwarnakan kegembiraan musim panas.
Bocah itu memainkan pasir di jemarinya, kakinya mengangkang, kepalanya memiring 45 derajat. Sama seperti Santiago, dia menatap pada iringan awan yang mendadak terhenti di atas lautan. Tatapannya kosong, sepertinya menikmati setiap detik yang hadir. Santiago meneguk bir hitam, buih bir menenempel pada janggut pendeknya yang berwarna abu bercampur putih. Dia menjulurkan lidah, menyeka sisa-sia bir hitam yang tersisa di bibirnya. “ Hari ini aku ingin bertemu Lolita “ bocah itu kembali bersua, nada kalimatnya datar. “ Sepertinya aku selalu ingin bertemu dengannya Santiago “. Santiago mendekatkan bibir botol bir pada mulutnya, lalu meneguknya sekali lagi. Kerongkongannya naik turun, bir sedang meluncur ke perutnya. Disodorkannya botol bir pada si bocah, beberapa detik bocah itu menatapnya. Lalu tangan kanannya mengambil botol itu, sambil kembali menatap langit dia meneguk bir hitam, wajahnya sedikit mengernyit. “ Lolita? Vladimir Nabokov? “ Santiago berucap sama datarnya, kerut wajahnya terlihat jelas di siram cahaya matahari. Bocah itu hanya mengagguk pelan, non verbal yang tak kalah datarnya dengan perbincangan mereka. “ Bagaimana kalau kuceritakan pengalamanku dengan ikan marlin waktu itu? Dengan hiu-hiu yang mencuri hasil pancingan besarku, kau tau 84 hari ku tak sia-sia karena marlin raksasa itu.” Santiago tertawa bangga ketika kalimatnya selesai. “ Maksudmu tulang ikan marlin raksasa itu? Tak ada yang berubah sesudahnya, dan aku sudah bosan mendenger kisah yang mengharumkan nama Hemingway itu Santiago. Aku hanya ingin bertemu Lolita sekarang, lalu menyentuh buah dada montoknya.” Si bocah memejamkan mata sambil memegang selangkangannya.
Santiago merogoh saku flannel kucelnya, bau garam sudah lekat. Dia menyalakan I-Pod, lalu memilih Misread dari KOC di playlist. “Aku tak suka Lolita, terlalu rumit,terlalu puitis di awalnya.” Ujar Santiago sambil menyamankan posisi duduknya. Bocah itu tidak mengidahkan Santiago, dia masih asik menggesek-gesek selangkangan dengan tangan kanannya. “ Anak jaman sekarang..” Santiago menatap si bocah dan meneguk bir hitam lagi, kali ini sampai habis.
Tercium bau semur daging, juga opor ayam. Samar-samar terdengar takbir dari luar, bunyinya menggema saling bersautan. Aku tidak melihat langit dan awan juga lautan, hanya ada garis kayu penyangga atap kamar. Si bocah sudah ejakulasi. Santiago sekarang asik menghisap ganja, botol bir hitamnya kini sudah baru. Handphone Sony Ericcson bersuara, lagu Everlasting dari The Adams. 16 New Message, aku membukanya satu persatu, Ucapan maaf di hari Idul Fitri. Pintu kamarku di ketuk, “ Sholat Id hey, bangun..”. aku membuka pintu, mengambil handuk menuju kamar mandi. Komputer menyala semalaman, KOC di playlist Winamp sudah selesai membawakan 3 album. The Man And The Old Sea terlentang di atas kasur yang kusut, di sampingnya Lolita masih memanggil-manggil mesra. " Sebentar sayang ", ucapku sambil menggosok gigi.
Ervan Raditia, 20 September 2009
 | R dan A | Aug 7, '09 8:33 AM for everyone |
Ini kedua kalinya secara berturut-turut saya dan dia bertatapan, melalui sela-sela cemara yang sedikit mengering di akhir kemarau. Dia, sia tua bercahaya di sisi barat. Saya meninggalkan rumah kue Hansel dan Gretel yang sedang ramai dengan temuan orang kesurupan, tanpa berpamitan dengan Yuda, Marja, Parang Jati serta Mbok Manyar yang sibuk dengan jampi-jampinya. Jauh jauh dari Sewugunung dan Sebul yang hanya hidup di sebuah mimpi. Menutup sementara pintu darii 536 halaman buku yang bersandar di tangan. Lalu tersenyum dan menyapa dia.
Dia, si orange bulat yang memaksa saya untuk pergi menuju perasaan purba, perasaan melankolis terhadap sinar kuning di barat, si bulatan tua. Perasaan purba, karena saya kira pemicu melankolia dari kesenangan terhadap nuansa ini berasal dari masa lalu. Sejauh-jauhnya masa lalu, sepolos-polosnya keberadaan pola berpikir dari manusia yang terus tumbuh.
Ada dimana saya atau kamu begitu mencintai tanpa sebab, tanpa mampu memaknai setiap keindahan yang senantiasa hadir. Menerima infrasonic, gelombang frekuensi yang tidak pernah sampai di telinga manusia. Tanpa input yang secara sadar menyulusup, keremangan cahaya yang menjadi kebahagian sejenak. Mungkin karena waktu bertemu kami, saya dan si bulatan orange yang selalu singkat, saya tak pernah bosan, atau sedikit mengengendurkan perasaan terhadap kehadirannya. Dia, si tua yang selalu bersinar.
For All The Dream That Wings Could Fly mengiringi pertemuan saya dengannya. Ada semacam kesedihan yang menggemberikan ketika saya menatapnya, ada semacam nafas baru yang menggeser kegundahan pikiran, sejenak, hanya sejenak dan itu yang membuatnya sangat menggembirakan. Karena pertemuan kami hanya sejenak. Dan kecendrungan manusia adalah mengingat dan lebih menghargai apa yang sudah pergi, yang sudah lampau. Tidak sadar bahwa kata ‘lampau’ itu berinduk dari ‘sekarang’, dari detik ketika perasaan ‘mengenang’ belum muncul. Begitu juga saya yang mencintai di antara intesitas pertemuan yang sejenak. Dengan si bulatan orange tua yang bersinar temaram hangat.
Saya merogoh tas yang di pangku, mengeluarkan pulpen dan buku catatan kecil. Setiap pertemuan saya dengan ‘Dewa Ra’ itu adalah selalu sebuah kontemplasi. Sebuah perenungan, dan karenanya saya selalu mencatatnya. Segala sesuatu tanpa sebuah bukti otentik adalah tak lebih dari Foklor. Manusia belajar dari hal-hal yang telah di laluinya, dari zaman purba, modern, hingga postmodern. Dan saya tidak ingin apa yang saya pelajari menjadi sebuah pembelajaran yang blur, tidak begitu nyata. Seperti foklor, dongeng yang selalu mengandung kata ‘konon’. Dan oleh karena itu saya selalu mencatat, berusaha menghilangakan ketidakpastian bahwa isi dari kepala saya pernah memimikirkan dam berujar pada diri sendiri.
“Awalan yang tepat bagi sebuah pengharapan adalah sebuah mimpi. Mimpi di siang bolong, di siang hari yang masih sangat lekat dengan realita. Begitulah setiap pergerakan menuju grafik kehidupan yang lebih tinggi di mulai. Begitulah langkah awal dari sebuah pola rumit yang mengharuskan saya,kamu,dia, kita berdedikasi pada hal yang unrasional. Karena tidak bisa terpungkiri semuanya dimulai dari sesuatu yang unreal, tidak nyata dan hanya berupa potongan-potangan acak yang tersusun di benak.
Dan dari sini semuanya berangkat dengan optimisme dan embel-embel perasaan,paradigma serta berbagai benih kepercayaan lainnya yang siap kita susun di ransum perbekalan menuju masa depan. Seperti juga yang lainnya saya pun memiliki telur pengharapan,mimpi. Yang selalu hangatkan agar melahirkan kenyataan.”
Begitulah catatan saya merekam sebuah pertemuan dengan matahari senja kemarin. Bus yang saya tumpangi berguncang di Padaleunyi, kenikmatan adrenalin seperti menaiki Kora-Kora di dufan muncul karena saya duduk di kursi paling belakang. Kepala saya bersandar pada kaca bus, senja dan matahari orange itu masih bercakap-cakap. Malam mulai tidak sabaran, cahaya sudah semakin temaram. Bayangan pegunungan tampak mencekam di kiri dan kanan jalan TOL. Bus melaju meninggalkan Jatinangor menuju Bandung, juga mengucapkan salam perpisahan saya dengannya, si bulatan orange tua yang indah. Senja yang sempurna.
Ervan Raditia 6 Agustus 2009
Seperti 300an hari yang lalu hari ini berulang, kali ini sudah ke 20 kalinya. Dia masih berjalan dalam kefasihan yang sulit diartikan, kesunyian yang tertutupi riuh canda tawa. Mimik wajahnya tak mengisyartakan adanya siklus yang berlalu mengiringi waktu. Dia hanya terus tertawa dalam dekapan tangan kiri duniawi.
Tak ada yang pantas di dengarkan dari sebuah cerita tanpa pencapaian. Pengingatan tanpa usaha, pergerakan dalam sunyi, kontemplasi tanpa reaksi, tanpa realisasi. Jemarinya masih gesit menekan keyboard hitam dini hari ini, Hujan di 14 Juni 2009. Tasnya penuh dosa, matanya lebam di tikam kekeliruan. Ini ceritanya, ini cerita orang dengan baju biru tua bertuliskan "MOGWAI~Mr.Beast" di loncatan usianya.
Tak ada pengharapan, bukan waktunya untuk berharap, ujarnya tegas. Kini saatnya pergerakan, kini saatnya realisasi. Dia akan menekan detik-detik perenungan dirinya untuk berjalan, berjalan dalam hujan keringat dan debu dosa tak berkesudahan. Kini dia berpikir, tersenyum sayu sambil bergumam pelan di hati.
" Tak ada ruang untuk sia-sia, tak ada kata untuk cinta, tak ada detik untuk memelas, tak ada air mata untuk menangis".
Dia akan menendang pesimis dengan progresifitas, dia akan menelantarkan nafsu untuk mendaki puncak pencapain yang dia tatap bertahun-tahun. Ini janjinya pada diri sendiri, janji terberat yang di bubuhi setetes darah dalam kertas kehidupan. Langit menghitam, tak ada hujan di jalanan Dago. Tapi tak ada bintang di hari terindah ini, di hari dimulainya cerita seorang manusia yang tak pernah mau menyerah pada kekalahan. Handphonenya berdering, sebuah pesan muncul.
From Denty Curly:
"Hujan Bulan Juni Oleh: Spardi Djoko Damono
Tak ada yang lebih tabah Dari hujan bulan juni Dirahasiakannya rintik rindunya Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak Dari hujan bulan juni Dihapusnya jejak-jejak kakikinya Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif Dari hujan bulan juni Dibiarkannya yang tak terucapkan Diserap akar pohon bunga itu"
Lalu pesan lainnya,dekapan lainnya dari teman-temannya. Dia tersenyum bahagia dalam aspal basah di bulan Juni, dia akan melupakan kesedihan, dia akan merantai perasaan berlebihan. Dia Ervan Raditia di Usianya yang ke 20. " Happy Birthday To Me " ucapnya dalam remang cahaya monitor. Kepalanya masih resah akan pesan dari seorang yang berjalan-jalan dalam hatinya yang segera di blokir. Pria plin-plan, kini dia seorang pria berumur 20 tahun;)
Semuanya terus melaju, seperi irama Depapepe yang sedang mengalun pagi hari ini. Aku akan terseret dalam ombak ganas yang menuju lubang gelap, aku akan merangkak dalam kelelahan yang menyenangkan ini. Tanpa pernah tahu akhir dari sudut akhir yang sebenarnya. Mendung gemegap, matahari yang menangis kehilangan warnanya. Merpati membawa secarik kertas ancaman dari sang detik yang berkuasa penuh. Aku tersenyum, walau sebenarnya aku menangis. Darahku mengalir bersama jilatan emosi, dan mulai sedikit meluap melaui media suara tak terbantahkan.
Tanganku gemetaran memegang tuntutan. Wajahku menua seiring semakin padatnya ruang di kepalaku yang terbagi-bagi. Bunga sudah menunduk layu, kumbang segera pergi meninggalkan ketidakharmonisan simboisis.
Aku butuh butiran es dari Himalaya, untuk segera mendinginkan semua yang panas membara. Aku tak akan membiarkan semuanya terbakar serangan detik yang semakin mencekam. Aku kepalkan tanganku, aku ereksikan otakku, aku stimulan perspektifku.
Aku tau dia mencemaskanku, aku tau seisi rumah mempertanyakan keberadaan semak-semak yang sudah beberapa hari tidak tumbuh di halaman. Aku tak ingin berkata kalau saat ini aku sedang dalam peperangan, aku tak ingin memahat kegelisahan di mukaku atau mukanya. Aku hunus senjataku, tapi aku yakin tak akan menang dalam konspirasi tak sengaja ini.
Perang ini dalam kesunyian, perang ini penuh kontemplasi dan urat nadi. Berikan tangan kalian untuk kugenggam melawan detik. Berikan tawa kalian agar tahan akan semua sayatan detik yang mematikan. Aku memohon konspirasi, aku memohon efektifitas, aku memohon kinerja dari kalian, orang-orang yang aku kagumi.
Aku tak ingin merangkak menangis di ludahi detik. genggam tangaku! aku memohon dalam kesunyian. Kita mulai peperangan terhadap detik ini. Gendrangnya sudah di tabuh. Jangan takut mati, karena aku yakin kita sekuat angin yang tak tersentuh. Detik tak akan kalah, tapi mungkin dia akan menghargai nyali dan usaha dari gerombolan para Idealis yang berjuang sampai kulit menghitam.(Ervan Raditia)
08.20 22 Mei 2009 Ermawar 9 Bandung
 | Rongga | Apr 24, '09 10:48 PM for everyone |
Pagi hari yah, semestinya indah. semestinya kan? tapi kali ini tidak. ini tidak seperti sebelumnya. ada awan hitam dan lubang menganga di antara rongga yang terbalut kekalutan. kegelisahan? anjing, ini tumpukan jerami yang siap di bakar. bagaimana dengan membunuh kucing, menghancurkan bola matanya. lihat! aku punya semua hal yang bisa menghancurkan arteri ku yang kumal. ada Netrazepham,Aprazholam,Cannabis,Nikotin dan barang sialan lainnya. bangsat! pergi kalian semua.sini biar aku pukul monitornya! biar aku cari benda tajam agar semua terfokus pada sayatan yang kubuat pada kulit dan menembus daging busuk kesukaan belatung.
Hari ini semestinya aku bekerja, konsep, jaga, briefing dan lain-lain. kemarin aku batalkan semuanya. Untuk berhaha-hihi di CCF bersama Mocca serta Angsa Dan Serigala. di sampingku mungkin ada dia, yang tertawa menutup kebusukan raut wajahku yang 2 jam mengerut karena khawatir.Angan-angan! Barang sialan! Black Menthol sialan! kenapa begitu dingin?! Teh manis hangat? ah, perpaduan yang sangat buruk di pagi hari. Semestinya botol hijau dengan alkohol, agar lambungku semakin cepat hancur dan membusuk.
Hey Layla Majnun, hey Goenawan Mohamad! kalian memuakan. biarkan aku bodoh sejenak brengsek. biarkan aku menggelepar kesetanan dengan prosa absurd di pagi hari yang semestinya seindah bola mata wanita berkebangsaan Prancis.
Aku memasuki ruangan gelap, menyendiri di pagi hari yang terang benderang. mataku gelap, ada semacam sejarah busuk Multatuli yang di selewengkan. apa harus begini? apa harus begitu? ada apa dengan Konsep Kreatif dan Project Manager? ada apa dengan uang? apa dengan berfoto dan tertawa. semuanya seperti bulatan yang tidak bulat. lonjong berat sebelah. Aku banting Nokiaku, aku hirup Marlboro ku. sialan! semestinya Lucky Strike Menthol!
Pohon buah berry itu menyenangkan juga yah. Sini aku pinjam parangnya, aku tebang dengan otot yang selemah Marsmalow, Marsbrand yang di gulung. sialan-sialan-sialan. Dissa Kamajaya! dia baru saja Online. di temanku ya? yang lain juga? hahaha. Sini-sini mari saya beri sedikit tenaga yang terkepal di tangan. hahaha. Sagat brengsek pasti masih tidur, Mama? bagaimana dia? hahahaha. Ada air di pipiku? dari mana ya? oh tidak-tidak! mataku tidak mungkin menetaskan air! hahaha. Pagi sialan! pagi brengsek! hahaha. aku yang brengsek? Kalian juga. aku butuh sedikit kotoran anjing untung kulempar pada tuhan. Sedikit saja. tuhan ya..bukan Tuhan! hahaha. darah-darah-darah. Keluarga sialan.
Warna sofanya merah, merah marun mungkin tepatnya. dengan bantal-bantal besar yang menyangga punggung kami duduk, tertekan hasrat kemalasan di siang mendung.
Ya, tentu langitnya gelap, seperti sebuah bercak hitam yang salah di sebuah lukisan berdominan biru. Kodoku No Hotsumei milik TOE mengalun dari macbook putih di sisi DVD, berdekatan dengan sebuah speaker langsing yang terlihat modern. jumlahnya ada 4. 2 di depan dan 2 di belakang. tepat di belakang ujung sofa merah yang kami duduki. masing-masing membawa peran penting dari alunan-aluan nada postrock yang kasar, marah, pintar dan terkadang sangat lembut. melodi yang jenius saya pikir. ada elegi dari perpaduan nada dan mendung di luar, juga angin yang sedikit menerpa rambut basah saya lewat sela-sela pintu.
Layar TV tetap menyala. tanpa suara, hanya menampilkan visual dari berbagai berita kriminal Indonesia hari ini. saya meresapi nada, tapi tak mengabaikan kerja mata. tak mengistirahatkan rasa dan intuisi. tentu sebisanya, seadanya, senikmatnya. menikmati detik itu. dengan kritisi hati dan jati diri. semuanya akan selalu baik-baik saja. hanya perlu pergerakan, dan usaha. saya yakin kita selalu tau itu. ya kan? ------progrsessif.
:"JASAD BAYI DITEMUKAN DI WC SEBUAH MALL" Teksnya menerangi gambar yang tampil di berita TV tanpa suara itu.
Kami mengkerut. banyol memulai percakapan. seperti biasanya dengan dialek sunda improvisasi. Bahasa subkultur anak muda Bandung.
" Wandraii... tega ya ibunya.." Kami sedikit berbincang. sedikit peduli dan kembali bersantai. tertawa-tawa sambil merasa perut yang lapar dan mata yang sembab.
Berita bayi malang berlalu bersama raungan gitar This Will Destroy You. Jakes memulai kembali dengan nada Viva La Vida, Cold Play. lalu kemudian Last Flower,ada Thom Yorke di karya jenius itu. orang jenius dan karya jenius. kami selalu tertarik dengan hal 'jenius'. tapi kenapa hanya sedikit yang berusaha jadi 'jenius'? kalian bisa ko. juga saya, tentu kamu juga. ya kan? -----------jadilah si 'jenius' itu.
Teks selanjutnya hadir. ;"PEMUDA MABUK DIDUGA LONCAT DARI TRIBUN STADION"
Kami tertawa-tawa. lalu berbincang tentang perilaku memalukan seorang pribadi dewasa.dia jadikan lahan uang para pencari berita. hahahaha. apa perlu kita tau berita semacam ini? berita yang memaksa kita mengulang kata klise: "Naon sihh maneh..!!".
-hanya orang dewasa kan yang boleh mabuk-.
Itu bukan peraturan, bukan larangan. tapi peringatan. sebuah tanggung jawab yang diberikan manusia ber-adab. penuntutan sebuah hak yang juga mempunyai hak. berusahalah dewasa sebelum ingin mulai mabuk. dan jadilah dewasa jika sudah mabuk. kita punya tanggung jawab akan pertahanan HAK kebebasan. saya memang ' sooo tau ' terkadang. tapi itu lebih baik dari ' tidak mau tau ' kan.
Beritanya semakin aneh. Ibu bunuh anak, anak bunuh Ibu, cucu tusuk nenek, stress lalu bunuh diri. nada-nada juga mulai aneh, karena playlist di tangan Jakes si Idealis. tapi keren kok Idealis. daripada apatis. kemudian ada lagi berita demokrasi kebablasan, bayi kurang makan, dokter hewan yang jadi pembunuh-aborsi. aneh kan? semuanya terjadi ketika kalian sedang memegang blackberry dan asik dengan Internet, dunia yang mulai semi-maya.
Gulungan Mars Brand nya sudah padam di asbak. menyatu dengan abu rokok dan tulang bebek goreng tadi malam. berita terus. berita terus: mati,korupsi,reduksi dedikasi, mutilasi, matinya hak asasi, demokrasi abstraksi, tai babi semua. lalu saya mulai menggulung Mars Brandnya kembali. yeha.... (Ervan Raditia/2009)
Kertasnya masih saja kosong. Hampir 30 menit aku menatapnya sambil memegang pulpen bercorak belang-belang dengan ujung yang terkikis karena gigitan. Mungkin wajahku akan terlihat sangat bodoh saat itu. Dengan rambut berantakan dan mata sendu aku hanya terdiam. mengetuk-ngetuk pulpen ke meja sambil memainkan tutupnya. Yang kurasakan hanya lema di sekujur tubuh, di tambah dengan kepala yang terasa semakin berat. Aku terus melamun meracau kesana-kemari tanpa ada satupun kalimat yang berhasil kutuliskan. Tanpa ada satu prosa-pun yang berhasil terangkai dari ereksi otak impoten.
Jarum jam sudah menunjuk angka 3 dini hari. bunyi tiktok darinya menjelma menjadi nyanyian ruh-ruh kebodohan. Segelas kopi hitam yang sudah dingin membisu di sudut meja. Buku catatan kecilku di atas meja bertumpuk bersama buku-buku yang juga tidak berhasil kucerna dengan baik kalimatnya. Seperti Benda-benda mati itu, aku juga hanya membisu, merasa-rasa sakit kepala yang absurd. Punggungku pegal. Jari-jariku mati rasa. Produktifitasku mereduksi menjadi lamunan-lamuna gundukan sampah. Aku sampah saat itu. Tanpa ada transformasi dekode yang menjalin suara-suara dari ruang kehampaan bernama PESIMISTIS. Ekplisit! hanya berisi 1 dari banyak jibilah yang terkubur. Bersama detik-detik yang membawa malam mengukuhkan paradoksnya. Preventif sia-sia.
Setelah ke 2x Menonton "Pintu Terlarang" bersama orang-orang yang berbeda. ada suatu ketertarikan mengenai hal yang menyangkut essensi dari dari film garapan Joko Anwar tersebut. setiap orang mempunyai masing-masing persepsi yang terbangun dari banyak elemen yang mempengaruhi cara berpikir mereka. berbagai faktor terlibat dalam menangkap suatu komunikasi non verbal yang di bangun lewat sebuah media, dalam hal ini film. Jika banyak film biasanya selalu berkaitan dengan sesuatu yang eksplisit (terutama film indonesia). jangan harap menemukan suatu garis tebal dalam film ini, karena bila di telaah secara detail dalam sebuah perumpaaan, garis tebal itu tidak pernah lepas dari titik-titik kasat mata yang selalu bisa membias artiannya. maka sebuah penafsiran itu akan menjadi sesuatu yang egois bila di paksakan keberadaanya. penafsiran itu tidak bisa di generalisasikan. Saya coba gambarkan pemaparan terhadap film ini. here weee gooo! Ini Kata Saya: Dalam kehidupan, kita tidak pernah lepas dari yang dinamakan garis waktu. sebuah garis yang menggambarkan bagaimana keadaan kita dari sejak terlahir, sampai dengan saat yang sedang kita alami sekarang. dari beribu fase-fase yang kita alami selama hidup. ada beberapa fase 'gelap' dan 'terang' yang menentukan arah tujuan kemana kita akan terus berjalan. sebutlah itu fase 'penting'. Terkadang, tanpa kita sadari, ada beberapa fase 'sangat buruk' yang sengaja di tutup rapat-rapat dari ingatan kita. suatu teori kuno yang mengatakan. ketika manusia mengalami fase terburuk dalam hidupnya, dia akan cenderung melupakan dengan cepat fase tersebut. hal ini tentu saja di lakukan naluri manusia yang selalu menuntut keadaan lebih baik dari sebelumnya. dan ujungnya, terciptalah sebuah 'pintu' yang akan menutup fase 'sangat buruk' kita itu. 'pintu' itu kita cipatakan sendiri. dan secara tidak sadar kita menempel kata 'terlarang' dalam 'pintu' tersebut. seakan sebuah peringatan dari naluri kita untuk tidak usah mengungkit-ngungkit fase sangat tidak menyenangkan itu. lupakan dan kamu akan selalu lebih baik. Untuk beberapa orang, fase 'sangat buruk' itu dapat di kunci rapat-rapat. kita juga secara tidak sadar menjauhkan fase itu untuk mengamankan posisi agar tidak mendapat semacam penyakit trauma yang akan sangat mampu mengontrol tindakan kita seterusnya. Tapi untuk beberapa orang yang kurang memiliki energi optimisme dalam dirinya. fase tersebut sangat menggoda untuk dapat di 'open case' lagi. begitu menggoda rasa penasarannya untuk memasuki terus begelut dan menyesali fase sangat buruk itu. dan ketika orang itu memaksakan untuk menjebol 'pintu terlarang' tersebut. dia akan langsung terbetot suatu aliran yang terus menyedot dia dalam rasa sesal, marah, frustasi, hilang harapan dan banyak rasa pesimis lainnya. sulit bila kita sudah masuk dalam pintu terlarang itu. disana segalanya seperti mendung.. mengundang banyak hawa pesimis. kelam. gelap. gila. Itu sebuah pilihan. apakah kita masih ingin berada di ruangan kelam yang membuat kita semakin terpuruk? atau mau menyegel 'pintu terlarang' itu dan menjalani hidup memasuki pintu-pintu baru yang lebih menjanjikan? itu sebuah pilhan. dan sayangya tokoh utama di film ini memutuskan untuk memasuki pintu terlarangnya tersebut. hingga akhirnya kita dipaksa menyaksikan sebuah film dari khaylan orang telah berada di ruang tersebut. orang gila. " Gambir... kamu gagal lagi..." ingat kata-kata itu? Dia telah gagal karena telah membuka kembali pintu terlarang dalam dirinya. hingga akhirnya dia terus menjadi orang menyedihkan di dalam penjara. ada essensi penting yang saya dapat dari film ini. Ada beberapa hal yang sebaiknya tidak perlu ketahui keberadaanya. karena ketidaktahuan tidak selalu berkonotasi negatif. seperti tau kalo kamu ternyata anak pungut... padalah sebenarnya itu tidak berpengaruh ketika orang tua kamu sekarang memperlakukan kamu sama seperti anaknya. lebih baik gak tau kan? daripada aplesssss..... pathetic. ( Ervan Raditia/2009)
Hujan masih rintik-rintik. kelabu menerkam, wangi kesedihan timbul tenggelam. tikus itu meregang nyawa, ususnya terburai di gilas roda hitam dari karet. di mengejang tanpa bersuara, kakinya sudah tak berupa. tetesan air bercampur darah, tikus hanya terdiam. roda hitam terus melaju melawan rintik-rintik tangisan langit yang kesakitan.
Bunyi gamelan mengalun di sebuah telaga. Gunung di sisi kirinya tidak lepas dari gundah langit yang menangis, juga pepohonan yang merunduk berempati. Nada nada itu mengerikan. seekor ikan meloncat kegirangan ketika petir menegur bumi. roda hitam dari karet itu sudah bercampur darah dan air, hitamnya kini sudah di coraki percikan merah dari nyawa seekor tikus. Gamelan itu terus mengalun mengiringi tarian hujan yang erotis dan ironis, petir sesekali tak sanggup menahan diri. membuat kegelapan tunduk sementara. Nada nada itu mengerikan. hari semakin gelap, hujan tak kunjung berpamitan. Telaga terlihat sedikit meluap-luap, beriak dengan tenang dan bersahaja di tengah rintik-rintik yang menambah volumenya.
Tikus itu sudah pulang, ujar angin yang berhembus tergesa-gesa membawa tetesan air. air dan angin itu menerpa wajahku yang muram memandangi telaga. sebatang rokok bersentuhan dengan api, dan segera asap berkontribusi dalam balada mengerikan hujan dan kematian. aku memandangi langit hitam dari balik lebatnya dahan pepohonan yang meneduhkan. suara gamelan masih mengalun sendu mengerikan. seketika aku menangis, rindu untuk pulang dan memeluk mama.
Hujan Deras Jatinangor. Desember 2008
Ketika saya tiba, di halaman sebuah distro kawasan dago tampak beberapa orang dengan rambut pelontos dan sepatu kulitnya asik berbincang. beberapa orang bergaya sangat elegan dengan kemeja yang dimasukan ke bagian dalam celana. beberapa lebih santai dengan rompi dan emblem yang timpang tinding di atasnya. mereka yang di sebut Skinhead, salah satu komunitas Subkultur yang identik dengan rambut pelontosnya. dengan logat sedikit sok malu-malu saya meminta ijin untuk ikut menunggu Aan Haircut, narasumber untuk keperluan wawancara saya tentang rilisan album kompilasi di Bandung.
" Oh, nunggu om aan ya a? tunggu aja disini, lagi makan dulu kedepan sebentar da.." Ujar seorang wanita yang ikut berkerumun disana.
Saya mengangguk tersenyum sambil duduk di samping wanita berperwakan subur itu. tato di mata kakinya tampak mencolok berpadu dengan kulit putihnya.
Sambil menyorongkan gelas aqua bekas yang diisi air berwarna kecoklatan dia membuka pembicaraan dengan ramah. " Minum gak a?"
Belaga lugu saya mengambil gelas tersebut dengan wajah tanpa dosa dan keliatan pengennya. hehehe " Wah, apa ini.. hehehe.. boleh-boleh"
" Gak enak ya? " Komentar wanita itu sambil menyaksikan aksen muka saya yang berubah.
" Lumayan lah.. enak,enak ko.." Marlboro saya mengepul dari sela-sela mulut yang masih sibuk merasa-rasa minuman yang baru saya teguk. um rasanya seperti softdrink biasa yang sedikit pahit. enak juga.
Pria di sebelahnya menawarkan diri untuk kembali mengisi gelas kosong saya. dengan senyum manis yang tetap malu-malu saya mendorong gelas lebih dekat ke 'mata air'.hehe. 1 gelas, 2 gelas, 3 gelas, dan pandangan saya mulai tidak baik. teringat maksud kedatangan saya untuk wawancara, akhirnya saya menolak gelas ke 5 yang di sodorkan.
" Aduh, saya mau wawancara sama kang aan uy, hehe. mungkin lain kali aja lanjutnya..hehe" Jelas saya pada mereka
Salah seorang menimpali perkataan saya dengan sopan sambil di iringi tertawaan teman-temannya. "OH??? hahahah. aduh maaf-maaf. gak apa-apa lah ya.. ini ada permen kok. hahahah. sok santai aja atuh.. hahaha.. "
Selang beberapa menit kemudian datang seorang pria berumur sekitar 30tahunan membawa anak kecil. dengan kacamata,rambut pelontos yang berpadu topi copet, jeans dan sepatu yang khas skinhead dia tersenyum ramah.
" Ervan ya? lama nunggu gak? sory tadi makan dulu uy. hehe"
" Oh engga kang, baru sebentar.. lagian juga tadi ditemenin sama ini da.. hehe, mau langsung mulai aja kang? "
Setelah mendapat posisi yang nyaman untuk melakukan sesi wawancara, saya membuka catatan kendali wawancara dan menghidupkan Mp3 player yang juga di manfaatkan secara multifungsi sebagai alat perekam. sesi wawancara berlangsung mengasikan, dengan gaya intelek dia menjawab pertanyaan saya dengan lugas dan... pintar. tanpa maksud merehmakan scene tersebut, awalnya saya mengira bakal berhadapan dengan sosok skinhead yang sangat jalanan, dan sulit di ajak berkomunikasi karena mabuk dan gaya streetnya. kenyataannya, saya cukup terkaget dengan narasumber yang sangat baik berbicara. hampir setengah jam kami berbincang. dan akhirnya semua jawaban pertanyaan saya telah rampung di rekam. menutup sesi wawancara itu aan menyalami saya bersahabat dengan kedua tangan yang di tumpangkan ke tangan saya.
" Kalo ada keperluan lagi gak usah sungkan ya van,, santai aja.. heheh"
Saya tersenyum sambil terus berterimakasih atas keramahan yang di berikan selama saya menunggu dan akhirnya berkesempatan wawancara. jalanan malam minggu di Dago cukup ramai, gerombolan anak muda dengan sepeda motornya tampak berjajar di sisi-sisi terotoar. saya bertolak ke jalan Gelap Nyawang untuk sekedar bersantai bersama teman-teman SMA saya. malam berlalu dengan cepat.
Besoknya di rumah saya bermaksud meng-transkrip hasil wawancara tadi malam. cpu saya nyalakan dengan Mp3 Player yang sudah siap memberikan suara-suara sesi wawancara. dan ketika saya play..... shiiiiitttttttttt.......... yang ada cuma bunyi angin dan suara orang yang terdengar sangat tidak jelas. hahahaha.
dasar kamu kacangan yung!
jadi gimana ? teuing ah! OL we.
 | Tinggalkan Pesan Jika Berkenan;.*- | |
 | selamat juni, selamat ulang tahun :D |
 | hey kamu kemana sajaaaah? :p |
 | ALL NEW BRANDED PERFUMES 100% ORIGINAL UNDER 400RB.. ALSO HAVE 2nd ITEM AND ALOT OF UNIQUE STUFF.. ONLY @ http://p4rfumku.multiply.comJUST TAKE A LOOK.. 0816.1430.682 |
 | Kami punya Teras Cafe yg menyediakan masakan ENAK + MURAH + FREE WIFI: 1. Steak Prime Rib Australian Beef dan Steak Lidah Sapi = Rp. 25rb/set 2. Spaghetti Napolitan = Rp. 13rb/set 3. Paket Timbel Bakar = Rp. 12rb/set 4. Paket Ikan Laut Bakar = Rp. 17rb/set 5. Bakso BOGEM (besar kyk BOGEM!!) = Rp. 9rb/set OPEN DAILY 12:00 – 21:00
Ajak teman2 & keluarga yo! (^ ^)/ |
|